Cara Berhemat (Day8)


Saat ini, keluarga kami sedang merenovasi rumah. Renovasi yang cukup besar (buat kami), sehingga mengharuskan kami sekeluarga berpindah tinggal sementara di rumah Eyang. Dan anak-anak paham, bahwa renovasi rumah ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit buat keluarga kami. Maka sejak rencana revoasi ini bergulir, maka kami sekeluarga sepakat untuk menghemat pengeluaran yang tidak penting.

Seperti libur panjang kali ini, tidak ada rencana dan jadwal untuk liburan ke luar kota. Anak-anak menikmati liburanya di rumah eyang sambil momong keponakannya yang usia 8 bulan secara bergiliran. Mereka nggak protes karena mereka tahu bahwa "jatah" liburan kali ini difokuskan untuk renovasi rumah. Karena renovasi rumah ini juga dilaksanakan setelah Lebaran, maka anak-anakpun tidak menuntut untuk dibelikan baju atau sepatu baru. Malah ditawari nggak mau, hehehe ... 

Sebagian nota-nota yang berhubungan
dengan renovasi rumah
Kok mereka mau dan nggak protes sih? 
Iya, karena dari awal kami sudah libatkan anak-anak. Seperti renovasi rumah ini. Kami terbuka ke mereka, berapa anggaran biaya yang dihabiskan. Anggaran tersebut untuk biaya apa saja., sehingga mereka paham bahwa setiap uang yang dikeluarkan oleh kedua orang tuanya adalah untuk keperluan yang jelas. Nota-nota pembelian dikumpulkan, untuk dicatat sebagai pengeluaran. 

Mereka juga kami libatkan untuk memilih dan menentukan model/style rumah yang diinginkan, khususnya untuk kamar mereka masing-masing. Saya minta mereka googling style kamar tidur yang mereka inginkan beserta perabotnya dan sekaligus mencari berapa harganya. Pada saat mereka tahu harganya cukup tinggi, saya biasanya coba kasih saran untuk mengajak mereka melihat hal lain yang bisa dimanfaatkan. Misal, banyak kayu-kayu dari rumah lama yang tidak terpakai yang nantinya bisa dibuat meja belajar, rak buku ataupun lemari pakaian. Kebetulan di rumah kami, ada beberapa item barang yang saya buat sendiri dari bahan-bahan bekas (mamaknya memang kurang kerjaan dan hobi pula nukang, jadi kloplah), terutama yang berhubungan dengan kayu. Atau reproduksi barang lama jadi terlihat "new".

Saya yang punya hobi "touch up" barang lama, seneng banget kalau dapat barang yang bisa di repro. Rasanya gatal, pengen segera di eksekusi. Seperti meja belajar jaman baheulaaa ini yang sedang kami pakai di rumah Eyang. Meja belajar yang usianya jauh melebihi usia emak, dan berbahan kayu jati, jujur ... bikin saya mupeng untuk segera touch up. Saya tawarkan ke Danish, karena di awal planningnya, dia mau di kamarnya ada meja belajar sendiri (yes, selama ini di rumah lama, anak-anak belajar di ruangan yang menyatu dengan ruang kerja emak bapaknya). 

Abaikan kondisi berantakannya ya😁
Awalnya Danish menolak, karena mejanya memang terlihat kuno dan berantakan (dimaklumin deh, mejanya korban penempatan barang-barang pengungsi). Tapi pada waktu saya perlihatkan dan gambarkan bahwa meja tersebut akan di repro ama emaknya dan dibuat dengan tema Shabby Chic (tema untuk kamarnya), maka dia setuju. 

"Ah lumayaaan banget. Alhamdulillaaaah, jatah dana untuk isi kamarku berkurang banyak donk. Aku bisa beli yang lain, Bun!"

Hahaha ... iya, anak-anak kami jatah sekian rupiah untuk mereka bisa isi kamarnya dengan barang-barang yang mereka inginkan. Jadi, kamii membudgetkan Rp. 5.000.000,- untuk tiap kamar, maka bila jatah barang-barang favorit yang mereka inginkan harganya lebih mahal dari jatah yang kami kasih, maka silahkan nombok sendiri dari tabungan mereka. Sedangkan kalau lebih atau sisa, silahkan diambil. Cara ini setidaknya membuat anak mau tidak mau berpikir kreatif. Bagaimana cara dan upayanya agar mereka tidak terlalu banyak keluar uang tapi mendapatkan barang yang mereka inginkan. 

Selain cerita meja belajar tadi, tempat tidur dan lemari pakaian adalah barang-barang yang akhirnya disepakati tidak dibuang tapi direpro ulang. Sayang, saya tidak bisa memotret tempat tidur dan lemari pakaiannya karena sudah kadung ditutupi dengan plastik biar gak kena debu. Kalau sudah begini, anak-anak justru yang sangat antusias untuk menjalankannya. Dan cara seperti ini kami terapakan dalam hal apa saja. Mulai dari biaya les mereka, uang sekolah, biaya rumah sakit, dan lain-lain.

Jadi, kalau ada teman-teman nanya, kok bisa anak-anaknya nggak protes liburan  panjang nggak kemana-mana? Nah, malah emak bingung kudu jawab apa. Karena memang semua sudah berjalan dan mengalir dengan sendirinya. Jadi, protes karena gak liburan? Jaraaaaaaannngggg banget keluar dari mulut anak-anak. Dan tentu ini bikin emang girang dong, rite? Alhamdulillaahh.


#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunSayIIP
#RejekiItuPastiKemulianYangDicari
#CerdasFinansial

Komentar