Membaca Buku Pelajaran, Kenapa Tidak?

Memunculkan kebiasaan membaca itu bisa dimulai dari membaca apa saja. Tidak usah dulu menilai apakah buku atau bacaan tersebut, berbobot apa tidak. Memunculkan dulu kesukaan membaca, setelahnya apabila sudah muncul dan menjadi sebuah kebiasaan, maka tinggal kita mengkondisikan lingkungannya. Tapi seiring berjalannya waktu, maka akan terbentuk sendiri, apa yang disukai atau tidak.
Beberapa saran dari orang-orang yang saya utarakan tadi, saya terapkan untuk Jani dan anak-anak. Bahkan, saya sendiripun menerapkan untuk diri sendiri. Buku bacaan saya beragam. Mulai dari komik Donal Bebek sampai dengan buku filsafat 😊.

Kemarin malam Jani protes ke saya, mengapa tantangan membaca kali ini, diganti dengan membaca buku pelajaran (sekedar informasi, minggu ini, Jani memang sedang Ujian Tengah Semester). Biasanya, membacakan buku pelajaran pada saat musim tes adalah tugas saya. Karena memang dia anak yang sangat auditif, dibacakan adalah salah satu kegiatan favoritnya. Termasuk materi-materi pelajaran.

Buku-buku pelajaran yang dibacanya sehubungan dengan materi tes UTS untuk esok harinya. Saya biarkan dia membaca dengan 'gayanya' yang kadangkala cukup keras melafalkan setiap huruf yang dibacanya, kadangkala tanpa suara. Membaca buku pelajaran tentu berbeda dengan membaca buku cerita. Untuk buku pelajaran, saya memintanya untuk menggarisbawahi atau menstabilo bagian-bagian yang penting untuk diingat. Cara ini cukup efektif, untuk Jani bisa membaca sendiri buku pelajarannya.

Tapi, setelah membaca buku-buku pelajaran, tetap saja akhirnya pada saat menjelang tidur, satu serial horor wajib jadi temannya.

Pohon literasi milik Jani yang mulai rimbun daunnya😍


#HariKe6
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst







Komentar