Jani, Si Guru Kecil Saya


Hari ke 2

Di bulan Ramadan tahun ini, Jani meniatkan untuk puasa full (sampai bedug maghrib) sebulan penuh. Tahun-tahun sebelumnya, meski sudah puasa sampai sore, tapi tidak dijalankan sebulan penuh dan juga tidak benar-benar diniatkan puasanya. Kalau kuat menahan haus dan lapar, ya sampai bedug Maghrib, kalau nggak kuat, ya berbuka, hehehe. Tapi tahun ini, sebelum Ramadan, dia sudah menyampaikannya ke saya, emaknya untuk ber0uasa full sampai sebulan penuh.

Realnya, yang dilakukan Jani
lebih dari apa yang ditulisnya
Tidak hanya niat berpuasa sebulan penuh yang dituliskannya dalam lembaran buku aktivitas seru di bulan Ramadan. Jani juga punya 'agenda' lain, yaitu menambah  keinginannya untuk melakukan kebaikan dalam bulan Ramadan kali ini, dan harapan terbesarnya adalah mendapatkan kelinci sebagai reward dari puasanya. Flashback sedikit, Jani memang sudah lama berharap, saya mengijinkannya untuk memelihara binatang. Tapi memang saya tunda Sebenarnay dia ingin kucing, tapi mb Danish, kakaknya yang nomer dua, sangat takut dengan kucing. Maka pilihan berubah menjadi kelinci. 

Mengapa kelinci menjadi reward untuk puasanya? Ya karena memelihara binatang itu butuh tanggung jawab dan juga merawatnya dengan baik dan kasih sayang. Dan dari puasa ini, saya bisa melihat seberapa besar Jani belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya. 

Memasuki hari ketiga puasa ini, alhamdulillah... puasanya berjalan lancar dan mulus kayak jalan tol.  Bangun sahur yang nggak pake drama, nggak bolak balik nanya jam kapan buka dan tidak juga mengeluh soal lapar. Semua berjalan seperti biasa. Saya lihat, dia sangat paham akan pilihannya. Bahkan, banyak hal-hal baik yang dilakukannya. Mulai dari menyiapkan makan saat berbuka dan sahur, mencuci gelas kotor, menyiram bunga. 
"Kasih aku pekerjaan bun, biar aku gak diem aja. Kalau diem, suka keingetan haus"

Kegiatan rutin sore hari di
bulan Ramadan, nyiram tanaman
Puasa Ramadan kali inipun Jani mengajarkan banyak kebaikan juga untuk saya, emaknya. Saya yang biasanya heboh dengan berbagai menu jajanan untuk berbuka, tapi kali ini Jani mengingatkan saya bahwa jajanan sebanyak itu akan mubazir karena pada dasarnya kami serumah senangnya berbuka dengan nasi 🤣. Waktu saya bilang, "Adek, nggak kepengin kolak, cendol, atau jajanan lain untuk buka"?
"Perutku gak muat bun. Kalau kebanyakan makan, nanti aku muntah. Makan nasi aja sudah kenyang banget"
Oh baiklahh, alhamdulillah... budget buka puasa kali ini, jauh lebih irit. 

Hal baik itu memang bisa diajarkan oleh siapa saja ya. Dan saya, belajar banyak soal kebaikan dan  kesederhanaan darinya.

#semauanakadalahbintang
#institutibuprofesional
#kuliahbundasayang


Komentar