Buku Kas


Hari kedua tantangan, janji saya ke Danish adalah menyediakan enam toples plastik untuk tabungannya. Tapi karena beberes dan packing-packing pindahan sementara ini cukup menyita waktu (hingga malam membuat tugas inipun, urusan packing belum kelar), maka enam toples plastik untuk tabungannya, terpaksa ditunda dulu. 

Buku Kasnya Danish
Tidak banyak yang dilakukan di hari kedua ini. Hari ini saya hanya bisa mengajarkannya untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran, sekecil apapun itu. Barengan dengan emaknya yang juga sedang mencatat cash flow untuk keperluan renovasi rumah yang sedang berjalan.

Memberi pengertian dulu kepadanya, apa maksud dari DEBET, KREDIT, SALDO pada alur buku kas. Bagaimana menuliskannya dalam keterangan mengenai pemasukan dan pengeluarannya dan juga belajar bagaimana menghitung saldonya. Setelah Danish paham, saya mencontohkannya dalam penulisan yang sederhana dan selanjutnya dia yang akan mengisi. Jadi, buku kas ini adalah buku kas miliknya. Dimana kami sepakati, tiap akhir bulan akan saya cek dan review. Apabila alur kasnya tidak minus, maka ada reward dari kami, emak bapaknya. Rewardnya sederhana kok, mentraktirnya makan! Hahahaha ...

Danish lagi demen nasi Padang. Karena di rumah sudah ada lauk, maka jika ingin makan yang lain, silahkan bayar sendiri ya ... 

Ini perlu saya ajarkan ke Danish, agar dia paham soal cash flow keuangan. Karena Bapaknya wirausaha dan Emaknya pekerja jasa, dimana pengaturan keuangan IS A MUST. Kalau Nayya kakaknya, sudah kami ajarkan untuk tidak hanya bisa mengatur keuangannya sendiri tapi juga upaya untuk dia bisa menghasilkan uang. Meski belum rutin, liburan seperti ini, saya minta dia membantu pekerjaan Ayahnya dan mendapatkan upah. Dan anaknya jadi candu, hehehe...

Kebiasaan ini, kami tanamkan ke anak-anak bahwa uang bisa kita dapatkan kalau kita bekerja. Jangan pernah berharap kemurahan hati orang untuk mendapatkan uang. Uang harus didapatkan mereka melalui upaya/usaha, agar mereka dapat menghargai uang dengan baik. Awal-awal saya mengalami kesulitan untuk menerapkan ini karena anak-anak terbiasa dapat uang dari budhe, tante dan juga eyangnya. Kesulitannya bukan diterapkan ke anak-anak, justru ke orang dewasa di sekitar mereka. Sempet dibilang anehlah, soklah, dan macem-macem lainnya. Nggak apa-apa, namanya juga proseskan? Yang terpenting, anak-anak memahami dan menjalankan apa yang sudah menjadi kesepakatan 

Sekarang, anak-anak sudah sangat paham, mereka bisa mendapatkan uang bila mereka berusaha. Dan orang-orang dewasa disekitar merekapun juga perlahan paham dan mendukung. Kecuali di spesial event seperti Ulang Tahun, kenaikan kelas atau Lebaran misalnya, saya masih membolehkan mereka menerima uang. 

Kami nggak bermaksud sok hebat dan idealis, cuma ingin mengajarkan ke anak-anak untuk lebih menghargai uang. Bukankah sesuatu bila didapat dengan usaha yang keras biasanya kita juah lebih menghargainya dan menjaganya dengan hati-hati dibanding bila kita dengan sangat mudah mendapatkannya? 

Tujuan besar dari kami sebagai orang tua, ingin anak-anak menghargai uang, memanfaatkannya dengan bijak dan bisa menghantarkan mereka melakukan kebaikan dan keberkahan melalui uang yang mereka miliki.


#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunSayIIP
#RejekiItuPastiKemulianYangDicari
#CerdasFinancial



Komentar