Kewajiban, Kebutuhan dan Keinginan


Tema di tantangan game level 8 ini, Melatih Kecerdasaan Finansial Pada Anak Sejak Dini, sebenarnya tanpa sadar sudah saya terapkan ke anak-anak sejak mereka usia tiga tahunan. Anak-anak sejak kecil sudah diajarkan oleh kami, saya dan pak Suami, bagaimana seharusnya mendapatkan dan menggunakan uang dengan bijak, meski dalam versi yang sangat sederhana. 

Penggunaan uang ini kami ajarkan ke anak-anak dengan cara yang simple dan mudah untuk mereka pahami dan jalankan. Misal, saat mereka ingin membeli buku cerita, maka saya ingatkan anak-anak untuk mencari buku cerita yang harganya sesuai dengan uang yang mereka miliki. Begitupun dengan jajan misalnya. Mereka hanya boleh jajan dengan nilai yang tidak boleh lebih dari uang yang mereka miliki. Atau, mengajarkan mereka untuk sabar memiliki buku atau mainan yang dikehendaki saat uang yang mereka miliki belum cukup.

Tantangan di game 8 ini dengan tema Mengajarkan Anak Kecerdasan Finansial Sejak Dini, saya dibantu Danish, anak saya yang nomer 2, usia 11 tahun (masa pra baligh). Menurut saya, ini saat yang tepat untuk Danish mulai belajar mengelola keuangannya sendiri. Benar-benar mengatur sendiri uang yang dimilikinya. 

Nayya, anak kami yang pertama, sudah mulai mengatur keuangannya sendiri secara mingguan sejak duduk di kelas 7. Kami, saya dan Ayahnya, memberinya uang operasional Rp. 50.000,- per minggu untuk keperluan dan kebutuhan sekolah (jajan, fotocopy, dll, diluar kebutuhan membeli buku-buku pelajaran tentunya). Dan hal yang sama akan kami berlakukan untuk Danish. Karena di bulan Juli nanti, Insya Allah, Danish sudah akan mulai masuk SMP (kelas7). Kalau dulu Nayya, awal-awalnya selalu kehabisan uang sebelum hari Sabtu, tapi selama perjalanan waktu dan "ketegaan" kami berdua untuk tidak menambah dan memberinya uang lagi saat dia kehabisan, ternyata mengajarkan banyak hal. Dia mulai belajar berhemat. Bahkan, seiring waktu, dia belajar untuk mengerem pengeluarannya, keinginannya dan juga hal-hal lain yang dianggapnya tidak terlalu urgent untuk dibeli. Bahkan, enam bulan belakangan ini, saya seringkali melihat, uangnya masih banyak yang tersisa hingga di ujung minggu.

Karena sistem yang sama akan kami terapkan ke Danish, maka saya mengajaknya untuk berdiskusi soal ini, sekaligus juga mendiskusikan soal tantangan di game ini. Sempat protes, mengapa "cuma" Rp. 50.000,- seminggu? Katanya sih nggak cukup ... hahahha respon yang sama saat kami pertamakali mengajarkan Nayya, kakaknya, untuk mulai belajar mengelola keuangannya sendiri. But will see lah ... kami orang tuanya meyakini, bukan soal banyak atau sedikitnya uang, tapi ini soal bagaimana kita mengatur diri kita sendiri. Berapa banyak orang yang tidak punya uang merasa berkecukupan sedangkan yang berkelebihan merasa kurang?

Jadi, tugas emak sebagai manager keuangan keluarga, hehehehe... adalah mengajarkannya bagaimana seharusnya dia menyikapi apa yang dia miliki agar kewajiban, kebutuhan dan keinginannya dapat terpenuhi.

Di hari pertama tantangan, hal pertama yang saya lakukan ke Danish adalah membantunya menuliskan apa yang menjadi kewajiban, kebutuhan dan keinginannya. Saya membantunya untuk membagi ketiga hal utama tersebut dalam prosentase untuk memudahkannya. Besarnya prosentase ini, berdasarkan keputusannya. Saya biarkan dia memutuskan berapa besar prosentase untuk masing-masing item. Saya ingin dia paham dan belajar ke depannya apakah keputusannya benar dan tepat. Satu hal penting yang saya sampaikan ke Danish adalah, bagian kewajiban (dimana disitu ada bagian tabungan dan sedekah) adalah bagian yang paling utama/duluan yang disisihkan. Jangan membiasakan menabung dan sedekah dari sisa uang yang kita punya. Karena kalau kita melakukannya (menabung dan sedekah dari sisa uang) maka, percayalah ... kita tidak akan pernah bisa melakukannya (nggak percuma donk, mereka punya emak yang kerjaannya berhubungan dengan uang hahaha....).

Tantangan kali ini, saya dan pak suami sepakat untuk memberi "modal" tiap bulan Rp. 100.000,- ke anak-anak untuk 100% mereka atur dan kelola sendiri uang yang dimilikinya, diluar jatah uang operasional Rp. 50.000,- tiap minggunya (kami berlakukan untuk Nayya dan Danish, sedangkan Jani adiknya masih 80% campur tangan kami). 

Saya memintanya untuk menyiapkan/membuat kotak/wadah untuk masing-masing pos. Kalau bisa yang transparan agar uangnya terlihat. Dan ... akhirnya dia meminta saya untuk menyiapkan 6 toples plastik, walaaahhhh .... kena deh hahahahaa. 

Okelah, untuk toples plastik ini besok ya emak siapkan, terlanjur sudah malam requestnya, males aja bongkar-bongkar cari toples plastik bekas makanan yang biasanya rajin saya kumpulin. Besoklah ya mba ... sekarang emaknya pengen selonjoran dulu, setelah seharian ribet dengan packing-packing.


#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunSayIIP
#RejekiItuPastiKemulianYangDicari
#CerdasFinansial








Komentar