Hari ini, Danish belajar menahan keinginannya. Di awal kami menjalankan tantangan ini, pertamakali yang saya sampaikan ke Danish adalah dia harus dapat memahami apa arti dari kewajiban, kebutuhan dan keinginan. Tidak hanya dapat memahami tapi juga dapat menerapkannya serta mampu menentukan prioritasnya, mana yang harus diutamakan.
Siang tadi, sepupunya main ke rumah Eyang (dimana kami sekeluarga tinggal sementara di sini selama proses renovasi berjalan). Di rumah eyang ini, banyak makanan kecil dan juga selalu tersedia makanan (duh, bertambahlah pokoknya bobot mamak). Nah, biasanya kalau sudah kumpul begini, sepupu-sepupunya tersebut bakal pesen makanan yang gak ada di rumah eyang, seperti pizza, burger, atau minuman milk tea yang endess gitu deh, melalui online.
Saat makanan tersebut datang, ternyata hanya Danish dan Nayya yang gak ikutan pesan. Waktu saya tanya kenapa gak ikutan pesan? Jawaban mereka bikin saya senang dan kasih dua jempol untuk anak-anak mamak.
"Nggak ah Bun. Di rumah Eyang banyak makanan. Eman-eman makanannya. Lagian, burger kayak gitukan lumayan mahal harganya, eman-eman uangku habis untuk beli makanan aja. Nggak ah ...Kalau cuma pengin-pengin aja, ntar dulu deh"
Dan mereka kompak berdua menjawab senada. Mamak? Senang pastinya. Anak-anak sudah tau apakah hal tersebut penting atau nggak untuk dibeli. Kalau hanya sekedar ingin tapi kita nggak butuh, maka tahanlah dulu.
Meski saya bukan tipikal yang senang belanja, tapi dulu saya termasuk gelap mata bila saatnya membeli barang-barang favorit. Seringkali hanya karena ingin bukan butuh. Ujung-ujungnya barang yang dibeli malah kadangkala nggak kepake. Dan mulai sadar untuk membeli barang yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Caranya? Cara ini selalu manjur untuk saya dan cara ini pula saya terapkan ke anak-anak.
"Bila menginginkan suatu barang, tahanlah sampai selama dua minggu. Bila selama dua minggu barang tersebut masih terbayang-bayang, silahkan beli. Bisa jadi karena memang kita butuh. Bila barang tersebut setelah dua minggu sudah tidak ada atau habis, atau masih ada tapi uang kita yang gak ada, ya... berarti memang belum rejeki untuk dimiliki"
Yang terjadi, seringkali belum seminggu sudah nggak kebayang lagi barangnya, sudah lupa, hehehehe.... Dengan cara seperti itu, menahan selama dua minggu, dompet saya terselamatkan dari jebol sana sini, hahahaha ... yes, it works banget buat saya. Dan, Danishpun beberapa waktu lalu menerapkan tahan dua minggu untuk sandal jepit pink ungu yang menarik hatinya. Kita lihat, bertahan sampai dua minggukah , keiinginannya untuk membeli?
#Tantangan10hari
#Level8
#KuliahBunSayIIP
#RejekiItuPastiKemulianYangDicari
#CerdasFinansial
| Sendal Jepit Miniso yang ditaksir Danish hehehehe (pic by google) |
#Tantangan10hari
#Level8
#KuliahBunSayIIP
#RejekiItuPastiKemulianYangDicari
#CerdasFinansial

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk hadirnya