Yuk, Breakdown Cita-Citamu (Day5)



Saya dan suami pada awalnya bekerja di perusahaan swasta sebagai pegawai. Dan akhirnya, suami memutuskan untuk mengurus dan menekuni bisnis keluarga (yang dulu dianggapanya gak keren, hehehehe...) sedangkan saya beralih menjadi seorang profesional, dibayar apabila bekerja yang mempunyai keleluasaan waktu☺.

Dan hari ini, perbincangan kami seputar pekerjaan yang tentunya sehubungan dengan financial. Dari kecil, anak-anak sudah kami kenalkan dan libatkan dalam pekerjaan orang tuanya. Mengenalkan dan memberi tahu mereka, apa yang dihasilkan dari pekerjaan orang tuanya dan juga bagaimana pekerjaan tersebut bisa membantu orang/keluarga lain. Termasuk Danish, yang dulu, pada awalnya merasa bahwa pekerjaan orang tuanya kenapa terlihat "berbeda" dengan orang lain. Katanya, kenapa Ayah dan Bunda tidak memakai seragam? Hahaha...

Obrolan kamipun beralih ke cita-citanya yang ingin menjadi dokter. Sebagai orang tua, saya dan suami pasti mendukung apa yang menjadi keinginan dan impian anak-anak. Nah, karena tema tantangan ini adalah seputar financial, maka sore tadi obrolan kami seputar biaya pendidikan tersebut. Sudah jamak bila biaya kuliah kedokteran di Indonesia itu mahal! Belum lagi jenjang pendidikan lanjutannya yang biayanya cukup fantastis. 

"Wah, Bunda sama Ayah, punya uang sebanyak itu untuk kuliahku?"
"Insya Allah, ada. Doain usaha dan kerjaan Ayah dan Bunda bertambah baik dan maju, agar bisa menyekolahkan mbak Danish di kedokteran".
"Nggak eman-eman Bun, uang segitu banyak untuk kuliahku?"
"Wah, Bunda malah nggak kepikiran eman-eman. Kok bisa eman-eman, mbak?"
"Iya ... uang segitu banyaknya, kan bisa untuk nambah modal usaha, Bun"
"Iya sih, tapi... Ayah dan Bunda sudah menysihkan dan menyiapkan dana untuk sekolah itu sejak mba Danish kecil. Jadi, Insya Allah nggak ganggu usaha".
"Tapi, banyakl oh Bun itu uangnya.."

Hahahaha ... obrolan kami tambah seru, saat Danish saya ajak untuk mencoba berhitung, berapa biaya yang harus disiapkannya setiap bulan, sejak saat ini, bila nantinya dia akan kuliah kedokteran. Hasilnya? Dia geleng-geleng kepala. Saya juga minta dia menanyakan langsung ke beberapa sepupunya yang saat ini sedang kuliah kedokteran soal biaya real perbulan yang dikeluarkan. Saya juga minta Danish untuk menanyakan langsung juga ke Om dan Tantenya yang saat ini berprofesi sebagai dokter, mengenai keseluruhan biaya saat mereka  kuliah dan berapa gaji dan pendapatan mereka sekarang. Dan, Danish cuma bisa senyum-senyum kecuuut, hahahaha... Sudah deh mba, kamu nggak kuat, biar Ayah dan Bunda aja yang mikir soal biaya ini.. wkwkwkwk.

Dulu sewaktu Nayya, kakaknya Danish, mengobrol soal cita-cita saat itu, sayapun tidak semata-mata mendukungnya, tapi juga melakukan hal yang sama, yaitu mem"breakdown" cita-citanya tersebut hingga pembahasan soal biaya. Mulai dari apa saja yang harus disiapkannya sejak sekarang. Misal ingin kuliah kedokteran, maka sewaktu SMA jurusanyang diambil adalah IPA. Kemudian, melanjutkan ke universitas mana, fakulltas apa. Apa saja materi penunjang yang dibutuhkan? Apakah perlu untuk les dan sebagainya. 

Buat kami, orang tua mereka, hal ini WAJIB kami sampaikan agar anak-anak paham bahwa banyak tahapan dan juga biaya yang akan mereka lalui saat mengejar cita-citanya. Sehingga saat mereka benar-benar kelak mencapai hal tersebut, mereka akan menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Karena tipikal kami sebagai orang tua cukup terbuka dengan anak-anak masalah keuangan, maka bahasan finacial keluarga menjadi tidak tabu untuk anak tahu kondisi keuangan orang tuanya, meski tidak terlalu detail. Tujuannya agar anak-anak tau, paham dan menghargai setiap usaha yang menghasilkan uang sehingga mereka mampu bersikap bijak pada saat menggunakannya. 

#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunSayIIP
#RejekiItuPastiKemulianlahYangDicari
#CerdasFinansial




Komentar