Hari ketiga, presentasi dari kelompok 5.
Jatuh di hari Sabtu, peserta diskusi tidak begitu banyak. Ini memang waktu keluarga dimana biasanya group memang sepi.
Meski diskusi berjalan adem ayem, saya malah hanya sempat mengikuti di 30 menit pertama, selanjutnya tertidur, hehehhe.
Mencoba menampilkan presentasi dengan bentuk lain, yaitu menggunakan steller. Cukup baik langkah yang diambil. Hal ini perlu, agar tidak muncul kebosanan. Karena materi yang sama dan dengan sumber yang juga hampir sama, rasanya sangat jenuh bila materi disampaikan dengan cara yang sama juga. Jadi, patutlah di apresiasi usaha kelompok 5 ini 👏🏻👏🏻👏🏻.
Kelompok 5 mengambil topik Pengenalan Gender Pada Anak. Mungkin topik bahasan akan jauh lebih menarik kalau kelompok ini memunculkan kasus kasus dalam dunia nyata sehubungan dengan gender ini. Atau kelompok ini bisa lebih menekankan cara-cara praktikal sehubungan dengan gender, mulai dari pengenalan jenis kelamin, apa namanya dan bagaimana menjaganya. Peran Ayah atau Ibu seperti apa seharusnya yang bisa diterapkan ke anak-anak untuk lebih paham mengenai perbedaan gendernya.
Secara keseluruhan, meski ditampilkan sedikit berbeda, ternyata materi yang disampaikan belum begitu membuat saya tertarik. Tapi kerja tim yang bagus saat menjawab beberapa pertanyaan yang masuk.
#bundasayang
#fitrahseksualitas
#gamelevel11
-------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan 1
Dari Puji
Permasalahan gender di masyarakat yaitu perbedaan peran dan tanggung jawab seperti yang sudah disebutkan di pembahasan td. Bagaimana cara mensikapi suami yg kadang enggan membantu pekerjaan rumah tangga, dia beranggapan bahwa itu adalah tanggung jawab istri. Padahal istri bekerja di ranah publik.
Jawaban:
Oleh mba rieski
Sangat di perlukan komunikasi yang produktif antara pasutri apalagi keduanya bekerja di ranah publik. Dan bisa di diskusikan tentang pembagian tugas, bunda bisa jelaskan kalo bunda butuh bantuan ayah untuk pekerjaan rumah, nanti biar ayah yang pilih pekerjaan mana yang ingin dikerjakan. Jangan lupa ucapkan terima kasih atau beri pelukan atau ciuman sebagai hadiah karena sudah di bantu. Ingat pesan pak Doddy mungkin karena kita berbagi beban bukan berbagi kebahagiaan. Saat minta tolong hindari sambil ngomel-ngomel ya bunda.
Tambahan dari mba sri sundarsih
Ikut Bantu jawab ya mb.
Perlu adanya komunikasi aktif utamanya istri. Gunakan waktu-waktu berdua (saat anak bermain/ sudah para tidur) untuk menyampaikan apa yang Kita inginkan. Bukan mengkritik tapi lebih pada berbagi Rasa sehingga Kita bisa sentuh tepat dihatinya...💓
Jangan mudah menunjukkan kekecewaan atau perasaan kesal dihadapannya.
Pertanyaan 2
Endriyani-semarang
Mba, anak saya cowok usia 4th. Setiap mainan bahkan baju yang berwarna pink, dia akan selalu bilang "itu kan buat cewek, mah? Aku ga mau!"
Bagaimana cara menjelaskannya supaya dia tetap bisa bermain dan memakai warna tersebut?
Akan tetapi dia tidak keberatan untuk bermain masak-masakan karena dari awal saya tidak bilang itu adalah mainan anak perempuan seperti kata orang kebanyakan.
Jawaban oleh mba feria
Secara fitrahnya, si anak sudah mampu menjelaskan bahwa dia adalah cowok.
Untuk masalah warna, mungkin bisa diberikan pengertian bahwa tidak ada pembedaan warna untuk cowok maupun cewek, seperti halnya dengan mainan misal masak masakan. Secara tidak langsung, kita akan menghilangkan persepsi stereotip yang sudah masuk ke diri anak.
Tambahan dari mba sri sundarsih
Mama tidak perlu khawatir dengan putranya yang sudah mulai memahami Fitriah seksualitasnya. Tinggal mengembangkan bagaimana dia memiliki tanggung jawab yang sesuai dengan fitrahnya.
Pertanyaan 3
Yuli P. Nitip pertanyaan mba:
1. Jika dikatakan bahwa mengkotak2 kan mainan kpd anak tdk mempengaruhi gender lantas hal apa yang berpotensi mempengaruhi gender pada anak?
2. Jika ada seorang ibu yg jd tulang punggung keluarga kemudian si ayah yang mengurus rumah tangga apakah itu bisa dianggap penyimpangan thp gender?
Terimakasih 😊
Jawaban dari mba Feria
1. Seperti yang ditulis oleh Bapak Harry, isia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 – 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka *secara alamiah* paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”
Jika pada usia ini orang tua berperan secara maximal, fitrah seksualitas anak tidak akan cidera.
2. klo menurut sy, selama dalam keluarga si Ayah mampu memperlihatkan perannya sebagai pemimpin dalam keluarga, cinta kasih terhadap keluarga, sy menganggap hal demikian bukan merupakan sebuah bentuk penyimpangan gender.
Bekerja bukan saja dari rumah ke kantor, ada bekerja di ranah publik & bekerja di ranah domestik. Semua akan tercipta harmonisasi apabila ada komunikasi yang produktif, jangan menilai hasil akhirnya dengan nilai rupiah.
Tambahan dari mba sri sundarsih
2. Menurutku tidak menyimpang terhadap gender selama ayah mampu mempososikan diri sebagai kepala dirumah.
Hanya saja pada kondisi ini, istri perlu kendali kuat untuk ihlas bahwa memang Rizki keluarga berasal dari tangannya sehingga tidak mudah menganggap remeh pasangan.
Pertanyaan 4
Desti Putry Assalamualaikum mb mustamimul..
Saya mau tanya ya..
Di slide ada kalimat yg intinya antara laki" dan perempuan harus bisa sama" mengatur rumah tangga, berperan dalam pemerintahan dll.
Persamaan ini apakah sudah sesuai dg fitrah, mb?
Saya jadi ingat pelajaran SD di kelas 2, bahwa salah satu peran ibu adalah pengatur rumah tangga. Jadi yang sesuai fitrah itu yg bagaimana?
Terimakasih.. 😘😘
Jawaban dari mba Rieski
Fitah ayah sebagai pemimpin dan ibu adalah manager keluarga untuk masalah mengatur rumah tangga memang harus bersama-sama, karena sang meneger butuh bimbingan dan arahan dari sang pemimpin dan tentunya keputusan terakhir berada di tangan pemimpin, begitu juga sang pemimpin dia membutuhkan sang manajer agar misi keluarga tercapai
Dalam pemerintah seorang ibu adalah madrosatul ulwa dari tangan ibu ini akan muncul pemimpin yang beradab
Tambahan dari mba ferria
Mengatur rumah tangga adalah urusan bersama, ayah & bunda, sesuai dengan peranannya masing masing. Dimana Ayah mampu menjadikan lisan saktinya dalam kepemimpinan keluarga, Bunda menjadikan tangan saktinya dalam merawat dan melayani.
Tambahan dari mba mustamimul
Peran-peran dalam keluarga tidak seluruhnya kaku sebagi peran ibu/ ayah, namun ada yang dapat dipertukarkan. Sebaiknya, peran-peran yang melekat pada perempuan atau laki-laki di dalam keluarga tidak terjebak pada streotype yang dilekatkan pada perbedaan gender. Kesadaran akan kesetaraan gender sangat diperlukan dalam rumah tangga, sehingga fitrah keayah bundaan dapat terpelihara dan dapat bekerja sama dalam mengatur keluarga.
Pertanyaan 5
Rovanty
1. Apakah dari solusi2 yg diberikan, akan menjawab tantangan gender di kehidupan sosial yg sudah tuliskan sebelumnya ?
2. Soal permainan : bagaimana pendapatnya ttg anak lelaki yg suka bermain Barbie Atau boneka orang2an ? Yg kadang bahkan ga bisa lepas dg boneka orang2annya dibawa kemana2. Apakah poin tidak mengkotak2an mainan masih berlaku ?
3. Pada point slide terkahir “penting untuk dilalukan”, jd gimana menurut pemateri ttg emansipasi wanita ?
Terimakasih.
Jawaban dari mba ferria
1. Solusi tersebut dianggap mampu menghapus persepsi stereotip yang muncul saat ini, yang telah membuat fitrah seksualitas anak cidera, yang tentunya akan berdampak buruk dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Jawaban dari mba rieski
2. Bisa dilihat dari awal knp si boy ini bisa seperti ini, tentunya bisa di lihat jga aspek lain. Apakah terjadi penyimpangan atau tidak
Tambahan dari mba mustamimul
Poin 2
Yang terpenting adalah menumbuhkan kesadaran fitrah seksualitas pada anak. Jika kesadaran tersebut sudah tumbuh tidak masalah. Karena jenis permainan anak tidak mempengaruhi gender. Saat ini masih banyak ditemukan orang tua yang masih mengkotak-kotakan maianan anak.
Tambahan dari mba ferria
2. Boneka, mobil mobilan *hanyalah sebuah media* untuk mencurahkan daya kreasi & imajinasi. Selama peran orang tua sudah mampu membangkitkan fitrah seksualitasnya, terutama pada tahap tahap awal usianya, anak akan secara alamiah memahami bagaimana harus bersikap terhadap media tersebut, bagaimana menjalankan permainan itu.
Jawaban dari mba rieski
3. Emansipasi wanita adalah mengembalikan fitrah sebagai seorang ibu dan fitrah sebagai seorang individu dimana keduanya bisa berjalan beriringan
Tambahan dari saya, Ayu Candra
3. Setinggi-tingginya jabatan seorang istri tetaplah harus menghormati suaminya sebagai imamnya sebagai pemimpin keluarga. Seperti yang tertera dalam Al-Qur'an Surat Annisa ayat 34
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
Emansipasi wanita menurut saya lebih mengacu pada cara berfikir seorang wanita yang mampu menjadi mandiri, berjalan beriringan tanpa melupakan kodratnya (fitrah yang dianugerahkan sejak lahir dari Allah SWT).
Tambahan dari mba Sri sundarsi
3. Persamaan gender bukan berarti semua disamakan. Persamaan ini tentu sesuai Fitrah masing2.
Contoh Di dalam rumah tangga suami punya tanggung jawab sebagai direktur rumah tangga, istri sebagai manajer. suami punya peran penentuan kebijakan tanpa meninggalkan pertimbangan istri.
Emansipasi boleh tapi jangan kebablasan, sehingga melupakan Fitrah masing2. Sehingga tidak terbolak balik.
Kita tidak boleh melupakan bahwa (arrijaalu qowwamuna alannisa') laki2 adalah pemimpin Perempuan
Demikian diskusi kami dalam menjawab pertanyaan teman-teman terkait materi yang kami sampaikan.
Jika ada kekurangan dari kami dalam menjawab pertanyaan, kami mohon maaf.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk hadirnya