Mengenal Diri Sendiri (Day 13)


Anak saya yang kedua, Danish, usia 12 tahun. Saat ini duduk di bangku kelas 8. Di usianya yang sekarang ini  Danish belum mendapatkan menstruasi. Boleh dikatakan, diantara teman-teman sekelasnya, hanya dia dan satu orang temannya yang belum mendapatkan menstruasi.

Source Google
Sering sih, Danish menanyakan kenapa kok dia belum dapat. Kok dia gak secepat teman-temannya atau bahkan kakaknya sendiri yang di usia 12 tahun, sudah mendapatkan menstruasi pertama. Sama seperti kakaknya dulu, dia sangat menantikan moment menstruasi pertamanya ini, dimana dia merasa sudah sah sebagai anak gede, hehehehe...

Source Google
Disini, saya banyak berperan untuk membangkitkan, menumbuhkan dan merawat fitrah seksualitasnya. Karena dalam agama saya, Islam, anak akan dianggap dewasa pada saat akil baligh (bagi perempuan adalah menstruasi pertama), maka saya sudah menyiapkan jauh sebelumnya.

Source Google
Saya memulainya sejak anak-anak sudah belajar bersoasilisasi dengan orang lain, kurang kebih patokannya sejak anak-anak usia PAUD, 3 tahun. Mulai dari belajar mengenal organ intimnya, menanamkan rasa malu pada dirinya, dan juga tanggung jawabnya sebagai perempuan dewasa kelak. Contoh sederhana, sejak kecil saya membiasakan anak-anak menggunakan pakaian yang lengkap, tidak hanya singlet atau celana dalam saja, meski di dalam rumah. Saya juga selalu berulang kali setiap saat sehabis mandi atau pulang sekolah, tidak pernah bosan menanyakan ke anak-anak, apakah hari ini ada yang nakal atau iseng memegang organ intim/pribadi mereka? Payudara, kemaluan, sekitar pantat dan juga sekitar mulut mereka? Sampe mereka hafal dengan pertanyaan saya, jadi ... sebelum selesai nanya mereka sudah jawab, nggak ada bun ... hahahaha.

Ada satu hal yang saya pelajari dari Danish sewaktu saya mengajarkannya akan rasa malu. Kejadiannya sudah sangat lama, saat dia masih TK kecil. Tapi sangat membekas buat saya. Jadi ... pada saat itu, anak-anak habis outbond dan salah satu kegiatannya adalah memandikan kerbau. Baju basah tentunya dan haruslah salin dengan baju bersih yang kering. Karena berada di pendopo yang cukup besar, semua orang tua mengganti baju anaknya setelah mandi, di pendopo tersebut (ruang terbuka). Danish? Sampai nangis dia bilang nggak mau ganti baju disitu karena terlihat banyak orang, malu. Dia maunya ganti baju di kamar mandi yang terus terang ukurannya sangat kecil. Cukup susah untuk dua orang masuk dan mengganti baju.

Masya Allah, saya yang waktu itu masih sangat fakir ilmu, merasa jengkel. Kenapa sih gak mau? Saya lupa, padahal setiap saat saya mengingatkannya untuk menumbuhkan rasa malu, tapi kenapa saya pula yang melanggarnya. Rasanya pengen flashback ke saat itu dan merubah sikap saya kepadanya 😊.

Dan hal-hal tidak konsekuen seperti ini, seringkali saya lihat pada orang tua sekarang. Melarang A, B dan C ... tapi tanpa sadar melakukannya. Anak dilarang merokok, orang tua kebal kebul menghisap rokok di depan anak 🀐🀐.

Saya bersyukur, Danish terbuka ke saya. Hal apapun dia ceritakan ke saya dan seringnya bilang, menurut bunda gimana? Seperti celetukannya tadi sore sepulang sekolah, "Wah, sekarang Ayu (temen sebangkunya) udah jadian sama Giaz, bun. Duh, temen-temenku banyak yang suka-sukaan gitu loh bun. Heran deh, kok pada kepikiran pacaran ya bun? Padahal enakan temanan aja loh".

Hmmm ... baiklah. PR mamak nambah nih. Kapan-kapan kita ngobrolin ini ya dek.



#bundasayang
#fitrahseksualitas
#gamelevel11



Komentar