Anak sulung saya, Nayya (13yo) sudah akil baligh. Dia termasuk anak yang aktif. Di sekolah, salah satu kegiatan yang jadi fokusnya adalah marching band. Karena marchingbandnya akan lomba di bulan November, maka jadwal latihan diperketat.
Setiap hari Sabtu dan Minggu adalah jadwal bandcamp. Bandcamp merupakan latihan intens anak-anak Marching band dimana mereka akan digodok tidak hanya soal materi latihan, tapi juga soal kedisiplinan, kebersamaan, kekompakkan dan tepo seliro. Mereka menginap di sekolah dan tidur bersama di ruangan kelas. Latihannya super intens, kadang bisa sampai jam 12 malam di hari Sabtunya, dan paginya mereka sudah harus bangun untuk memulai hari dengan olahraga dan ibadah dan setelahnya dilanjut kembali latihan.
Capek? Jangan ditanya deh. Setiap habis pulang bandcamp, yang biasanya minggu sore sekitar jam 17.00 wib, yang ada, anaknya lanysung tepar hingga besok pagi. Terus terang, saya rasanya gak tega membangunkannya.
Cuma ... ya, Nayya harus belajar bertanggung jawab dengan keputusannya. Secapek apapun dia, maka kewajibannya untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Seperti yang sudah kami sepakati bahwa setiap weekend, Sabtu dan Minggu, anak-anak bergilir membereskan dan membersihkan rumah. Kalau memang giliran jadwal Nayya, meski hari itu dia ada jadwal bandcamp, maka dia harus tetap melaksanakannya. Apakah itu bisa dikerjakannya di hari Sabtu sebelum berangkat bandcamp, atau setelah pulang dari bandcamp. Atau mungkin berganti hari mengerjakannya.
Tanggung jawab ini, sudah kami tanamkan ke anak-anak sejak mereka sudah bisa memilih. Ayah, adalah role model untuk hal ini. Seperti pada awal-awal Nayya merasakan beratnya latihan marchingband, hampir tiap hari dia mengeluh dan ingin keluar. Ayahnyalah yang mengingatkannya untuk bertanggung jawab terhadap pilihannya. Selesaikan dulu kewajibannya. Dari awal, kami orang tuanyapun, tidak pernah memaksa dia untuk ambil ekskul marchingband. Maka saat dia menentukan pilihan, maka dia juga harus sudah tau apa konsekwensinya.
Tentu saja, sosok Ayah sebagai pensuplai kemandirian, disiplin, ketegasan dan juga tanggung jawab, sangatlah dibutuhkan untuk membangkitkan, menumbuhkan dan merawat fitrah seksualitas. Anak perempuan tetaplah butuh sosok "maskulin" dalam dirinya. Ini sangat dibutuhkan oleh anak, siapapun mereka, laki-laki atau perempuan.
Dan sekarang, buah dari hal tersebut, meski capek sepulang latihan ataupun bandcamp marchingband, Nayya (kadang masih juga sih kadang-kadang mengeluh) akan menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Mungkin hasilnya tidak sebaik seperti biasanya, tapi setidaknya dia sudah paham bahwa tanggung jawab haruslah dijalankan.
"Bun, besok Minggu lepas Maghrib, request bu Sulis yaa (tukang pijat langganan keluarga kami). Aku latihannya bakal capek banget kayaknya. Kalo gak dipijet, tanganku nanti susah buat cuci piring besok paginya."
Hmmmm ... kok bisa ya ... tapi, ya baiklah. Segera pesan bu Sulis 😁.
#bundasayang
#fitrahseksualitas
#gqmelevel11




Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk hadirnya