Alhamdulillah .... leegaaaa ...
Akhirnya kelas telur-telur di kelas Bunda Cekatan sampai di titik akhir. Telur-telur saya akhirnya menetas juga, hahahaha...
Selesaikah kelas ini? Wow, tentu tidak! Masih panjang prosesnya. Dan sekarang kami masuk ke tahap "ULAT-ULAT" (masih ingat metamorfosa kupu-kupukan? Dimulai dari telur, ulat, kepompong dan akhirnya muncullah kupu-kupu cantik). Seee ... masih panjangkan ya prosesnya, alhamdulillah.
Di tahap telur-telur yang lalu di kelas Buncek ini, sudah mengarahkan kita untuk belajar fokus dan konsisten dengan pilihan kita. Seru, karena banyak teman-teman yang merevisi setiap pekan tentang ilmu yang ingjn mereka pelajari. Saya? Tetep kekeuh dengan benang merah ilmu yang ingin dipelajari adalah Public Speaking dan Youtube. Aslinya sih pengen juga menambah atau merevisi, tapi ... aaah, kalau diikutin sih gak ada habisnya, bakalan revisi terus deh hahahaha...
Nah diawal tahap ulat-ulat, kami diminta untuk mencari sumber ilmu atau refrensi untuk ketrampilan/ilmu yang sudah kami sampaikan di tahap telur-telur sebelumnya. Setelah kami mendapatkan sumber ilmunya, kami diminta untuk mereview bagaimana ilmu tersebut. Apabila menurut kita baik, maka kami diminta untuk mensharenya ke teman-teman lain agar info ilmu ini bisa juga dimanfaatkan oleh teman-teman lain yang mempunyai interest yang sama dengan kita (share tentang refrensi ilmu ini melalui account facebook Institut Ibu Profesional). Waaaaahhh ... bertebaran sumber ilmu dari banyak teman-teman. Sampai rasanya lieur euy hahahahaha ... (terakhir saya lihat yang menshare tugas ini, sudah mencapai angka 800an lebih 🤤🤤🤤)
Ini adalah gambar yang saya share mengenai apa yang menjadi "makanan" saya di tahap awal kelas ulat-ulat ini. Sebagai orang yang belajar dengan gaya visual, saya merekomendasikan ilmu tentang public speaking dan youtube itu, melalui video (channel youtube). Buat saya, ini akan jauh lebih menyenangkan daripada membaca buku! Hahahaha ... apalagi untuk public speaking, banyak hal-hal yang bisa dipelajari secara "langsung" sà at kita melihat para pembicara berbicara di depan umum. Dari dulu, channel youtube TED (Di sini), salah satu channel yang saya jadikan refrensi untuk teknik public speaking saya. Suka memperhatikan bagaimana tiap pembicara memeiliki cara, teknik, gesture, body language dan bahasa yang unik dan keren. Ada yang bersemangat di stage, lari sana sini, ada juga pembicara yang sangat kalem tapi mimik wajahnya sangat "deep". Menyimak intonasi dari yang berapi-api hingga yang pelan bersahaja. Semua buat saya adalah ilmu yang penting yang dapat diserap oleh saya lewat mengamati langsung melalui video. Selain melalui channel youtube TED, tentu saja ada beberapa sumber refrensi lainnya sehubungan dengan public speaking. Seperti kelas online yang sudah saya rencanakan untuk saya ikuti dan juga belajar langsung ke pakar public speaking yang ada. Diantaranya ada kelas online Pandji Pragiwaksono, Kelas off line Prie GS, workshop Harry Ho dan beberapa refrensi lain.
Dengan sedikit ilmu tentang public speaking yang saya ketahui saat ini, saya merasa jauh dari cukup untik bisa menjadi pembicara yang baik. Tapi setidaknya modal yang sudah saya miliki, mamou saya kembangkan kebih baik. Dan, berbicara di media yang baru buat saya, seoerti Youtube, tentu saja memounyai teknik yang berbeda.
Menjadi Youtuber, terus terang ini adalah keinginan saya yang muncul setahun belakangan ini. Saya tertarik untuk mempelajari hal ini karena betapa media ini menjadi sangat powerfull untuk generasi sekarang. Kemajuan teknologi memang secara tidak langsung merubah cara dan gaya hidup kita. Side effect dari apa yang sering saya lakukan, kampanye bullying ke sekolah-sekolah, adalah betapa orang tua banyak mengabaikan untuk mengobrol dengan anak. Bukan karena mereka tidak punya waktu tapi seringkali karena mereka nggak tau bagaimana caranya memulai berkomunikasi dengan anaknya. Apa saja yang harus dibicarakan. Jaman sekarang ini, sebagai orang tua kita memang harus ikut 'lari' bareng anak agar tidak jauh tertinggal. Pendekatan ke merekapun haruslah berbeda. Tau dan peduli dengan lingkungan anak dan hal-hal lain yang berhubungan dengan gaya hidup anak jaman sekarang ini, salah satunya adalah memahami teknologi yang menjadi bagian dari hidup mereka. Nah, di channel youtube saya nanti hal-hal seperti inilah yang akan menjadi content utama. Gap Generation Discuss hahahaha ...
Kenapa saya ambil refrensi channel Raditya Dika (Klik di sini)? Kok nggak Atta Halilintar misalnya, yang konon katanya subscriber dia udah 20juta orang. Hahahahaha ... pertama, tentu saja ini penilain subjektif, dimana saya merasa lebih klik dengan Radit dibanding Atta. Selain itu, menurut saya, yang menarik dari seorang Radit adalah, selain gaya bicaranya yang santai dan apa adanya, mungkin terlatih karena sebagai stand comedian, juga pemikirannya yang seringkali saya nilai out of the box. Konten yang ditawarkan di channelnya itu menurut saya gak ada yang istimewa tapi mengapa banyak yang nonton dan suka pula?. Bahkan banyak konten ya nggak pentig dan ngaco (lebih ke komedi ya) tapi kok malah banyak yang like? Hahahahha ... disitulah hebatnya Radit. Meski terkesan remeh temeh, konsepnya dibuat cukup matang. Kematangan konsep ini bisa kita rasakan saat melihat beberapa video di channel Youtubenya.
Radit itu menurut saya, sudah mampu menjual dirinya. Dia menampilkan hal-hal yang biasa, sangat biasa malah, menjadi sebuan tontonan yang asyik. Tidak memperlihatkan kehebatannya (seringkali malah kelemahannya, misalnha bersuara jelek, tidak cakep, dan lain-lainm you name it hahahaha ... ) dan hal-hal yang diluar jangkauan banyak orang u tuk dipikirkan. Tampil apa adanya, tanpa dilebih-lebihkan atau dikurangi. Dia sangat paham, siapa sebagian besar subscriber channel youtubenya. Konsisten memposting video (bahkan pernah sehari saya temukan Radit memposting lebih dari 2 video, hahahahha). Dengan topik yang dekat dengan subscribernya. And he did it. Subscriber lebih dati 8 juta itu, sudah menghasilkan pundi-pundi yang nggak sedikit buat Radit. Aaahhh, ngirilah saya wkwkwkwk ..
Selain mencari berbagai refrensi menjadi youtuber pemula melalui google, dan juga buku-buku, saya juga harus banyak-banyak mengamati channel-channel youtube yang oke menurut saya. Channel yang tentunya sesuai dengan style dan gaya saya. Bagaimana mereka mengolah contentnya, hasil editing video yang oke, content ya g sering menjadi trendig topic. Saya juga sudah merencanakan untuk belajar langsung membuat video. Mulai dari take gambar, sampai dengan edit dan uploadnya di Youtube.
Huuffttt rasanya banyak sekali yang harus saya pelajari ... semua harus pelan-pelan dicerna dengan baik agar saya gak merasa "mual" dan malah akhirnya "muntah". Meyakini semua dapat saya kerjakan kalau sudah diniatkan. Bismillahirrohmannirrohiim
#janganlupabahagia
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekiip
#institutibuprofesional




Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk hadirnya