Delapan pekan sudah berlalu, rasanya begitu banyak cerita yang tak terkisah. Proses belajar ini sungguh mengajarkan banyak hal. Tahap ulat-ulat yang telah purna untuk bersiap ke tahap selanjutnya untuk nanti akhirnya menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang cantik!
Tahap ulat-ulat ini adalah tahap yang cukup panjang dalam proses belajar kami di kelas Bunda Cekatan (BunCek) ini. 12 tantangan kami lewati selama tiga bulan ini. Dan tentu saja ini jadi sebuah proses belajar yang penuh suka duka.
Awalnya, ada rasa berat untuk tetap terus bertahan. Dengan planing tahun ini mau fokus di kerjaan yang agak terabaikan dua tahun terakhir. Kesalahpahaman dan minimnya updatean informasi dari regional Semarang akan perubahan sistem belajar dari pusat, "menyemplungkan" saya di kelas BunCek ini. Saat itu, karena sudah merasa terlanjur, ya ... mencoba untuk menikmati. Dan alhamdulillah, masih bertahan hingga tahap akhir kelas ulat-ulat ini. Doàkanlah, saya bisa menyelesaikan tahap selanjutnya ya.
"Kelas ulat-ulat mengajarkan banyak hal ke saya, yaitu arti tentang pilihan, konsekuensi dan konsisiten. Juga mengajarkan pentingnya mengukur kebutuhan diri. Belajar mengenai kebebasan sekalgus juga menahan diri, peduli dengan sekitar dan bersimpati dan empati untuk orang lain. Mengajarkan bahwa kesuksesan kita itu adalah pilihan dan support dari orang lain".
Memulai dengan mencari dan menentukan sendiri sumber ilmu yang ingin kita dapatkan di hutan pengetahuan. Tidak hanya mencari untuk mendapatkan ilmu yang kita butuhkan tetapi juga, membagikan hal-hal yang mampu untuk kita bagi dan berikan ke orang lain yang barangkali membutuhkan. Di sini saya memahami bahwa sejatinya belajar itu bukan soal mendapatkan saja tetapi juga memberi. Saat itu saya mencoba untuk membagi tips seputar public speaking, yaitu hand movement (bisa klik di Sini), yang pernah saya dapatkan sewaktu saya bekerja di stasiun radio dan sampai sekarang masih saya pakai tips ini pada saat saya harus berPublic Speaking.
Keseruan di tahap ini juga disaat kami harus mencari keluarga baru. Anggota keluarga yang memiliki kesamaan kesenangan dan kesukaan dalam hal yang ingin dipelajari. Saat itu, Fb group 'heboh' dengan banyaknya mahasiswa yang sibuk mencari keberadaan anggota keluarganya. Sayapun menemukan keluarga baru saya, keluarga Public Sepaking, Getar Suara. Kehebohan berlanjut karena kami diminta untuk secara random berkenalan dan mengirimkan hadiah/bingkisan ke teman lain yang bukan dari keluarga yang sudah ditemukan. Memberi bingkisan tepatnya adalah memberikan perhatian ķita untuk melihat keadaan sekeliling, apakah ada di sekitar kami teman-teman yang belum mendapatkan makanan yang mereka butuhkan dalam proses belajar ini. Apakah mereka sudah bahagia dalam proses ini. Huufftt ... di tahap ini, jujur, saya merasa berat. Karena sejatinya, saya tipikal yang introvert dan anteng di pojokan, mau tak mau harus 'keluar' dan berkenalan dengan sesuatu/orang yang baru dalam waktu singkat, cukup membuat saya merasa kurang nyaman. Tapi, the show must go on. Ternyata, teman-teman baru ini mampu juga menyuntikkan semangat baru. Mood boosterlah, hehehehe ...
Dan sampai di tahap akhir tahap ulat-ulat ini, kami diminta untuk menjadi buddy system, yaa ... semacam support system, untuk seseorang. Menjadi orang uang bisa diandalkan oleh temannya untuk menjalankan proses ini ke depannya nanti. Untuk orang yang agak susah dekat dan intim dengan orang lain dalam waktu singkat dan juga tidak terbiasa dekat dengan orang lain, tantangan ini sudah saya rencanakan untuk saya skip. Ditambah dengan kerjaan yang semakin menumpuk, anak-anak yang semakin menuntut hadirnya saya lebih intens, saya merasa ini jadi alasan tepat untuk saya stop sampai di sini, atau kalaupun saya ingin melanjutkan, ya saya akan berjalan sendiri. Oh ya ... saya ini tipikal introvert thinking, kata temenku, hahahahah dimana saat saya dalam proses berpikir itu, saya lebih nyaman bila saya "bersemedi" tanpa diganggu oleh siapapun. Jadi saat buddy system ini menjadi tantangan di tugas terkahir di kelas ulat-ulat ini, saya antara maju mundur untuk menjalankannya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan mbak Hanny (Nugrahanny Sarsa) temen satu regional dan satu keluarga juga di Public Speaking yang akhirnya menjadi buddy saya. Lucunya, kami berdua sama-sama punya rasa yang sama mengikuti kelas BunCek ini, rasanya "weleh-weleh" banget, hahahahaha. Nggak ada padanan kata yang paling tepat bagi kami untuk merasakan betapa weleh-welehnya kami di kelas BunCek ini. Saling menyemangati dan mensupport untuk kami berdua bisa tuntas di kelas BunCek ini. Wis kadung basah, nyebur sisan, hahahaha.
#bundacekatan
#kelasulatà
#institutibuprofesional
#aliranrasatahapulat


Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk hadirnya