Berat.
Satu kata yang saya sematkan untuk berada ditahap ini, tahap kepompong. Dalam metamorfosa daur hidup kupu-kupu, tahap inilah yang paling menentukan, apakah kau berhasil menjadi kupu-kupu yang cantik? Atau menjadi 'cacat' karena tak mampu bertahan.
Berada di tahap kepompong ini, ada dalam fase dimana saya sangat jemu dengan semua hal. Hampir seluruh tubuh menolak untuk melanjutkan. Sungguh, bukan soal yang mudah untuk bertahan atau meninggalkan. Sempat membulatkan tekad untuk menyudahi saja proses ini. Entah, keengganan itu muncul darimana. Dalam proses berdiskusi dengan diri, akhirnya memantapkan untuk menjalaninya hingga batas limit kemampuan untuk bertahan.
Di tahap ini, konsisitensi menjalankan tantangan selama 30 hari berturut-turut sebenanrnya buat saya terasa sangat berat. Karena dasarnya sudah enggan, saya merasa tahap ini berjalan tidak sesuai timing nya dengan apa yang sudah saya rencanakan. Dan kalau mengulur ke belakang, sebenarnya keterlibatan saya di kelas Bunda Cekatan inipun lebih berupa 'kecelakaan informasi'. Saat menimbang apakah saya melanjutkan untuk berada di kelas BunCek ini atau menyudahinya saja, saya putuskan untuk tetap menjalankannya sebisa dan semampu saya.
Dengan tantang 30 hari berbicara kebaikan, awalnya saya berencana membuat 30 seri video. Tapi ternyata dalam prosesnya, membuat video itu tidak semudah yang saya pikirkan. Ditambah, dalam pengerjaan tantangan di minggu pertama ini, saya dalam kondisi demam tinggi. Video yang hanya saya buat dihari pertama, akhirnya saya rubah formatnya menjadi audio di hari-hari berikutnya. Saya hanya ingin, setiap hari saya bisa melakukan tantangan yang sudah ditetapkan.
Bentuk audio itu sungguh memudahkan saya dalam mengerjakan tantangan. Saya gak butuh performance yang rapi, seperti halnya dalam pembuatan video. Saya gak diribetkan dengan penampilan. Dengan kondisi badan yang demam, rasanya merias diri menjadi urutan paling akhir. Dan bentuk audio ini akhirnya berlanjut mulai dari hari ke 2 hingga ke 30.
Mengapa berbicara kebaikan menjadi tantangan yang saya ambil? Terus terang, saya sudah dalam tahap muak melihat begitu banyak orang dengan mudahnya untuk menyakiti orang lain. Begitu mudahnya orang berkata kasar dan berperilaku buruk terhadap orang lain. Saya meyakini bahwa kebaikan adalah jawaban dari semua perilaku kita. Kebaikan adalah 'agama' semua orang. Sesuai juga dengan kegiatan kami yang mengkampanyekan anti bullying saya dan teman-teman di KLiK, dengan mengenalkan arti kebaikan. Karena kami yakin, kebaikan itu tidak pernah melahirkan kekerasan.
Maka, tantangan 30 hari ini saya tetapkan bahwa saya setiap hari harus bisa menceritakan/menginspirasi tentang kebaikan. Tema-tema yang sangat 'woman' banget sering saya angkat, hingga pada satu hari, si bungsu saya mendengarkan beberapa cerita dongeng yang pernah saya rekam. Dan meminta ijin untuk menshare rekaman tersebut ke temannya. Dengan kondisi pandemi seperti saat ini, anak-anak yang harus belajar di rumah, kayaknya memang membutuhkan bermacaam-macam hiburan. Dan rekaman dongeng saya akhirnya beredar di kalangan terbatas teman-temannya Jani. Padahal itu masih rekaman voice yang sangat mentah.
Akhirnya saya memutuskan, ayo kita berbicara kebaikan lewat bercerita/mendongeng di sisa setengah perjalanan menuju 30 hari, saya memutuskan untuk menceritakan cerita-cerita yang menginspirasi. Mulai dari cerita dongeng sampai ke cerita inspiratif dari perjalanan hidup wanita-wanita hebat.
Ya benar, saya menuntaskan tantangan ini selama 30 hari berturut-turut dalam keadaan not well. Saya merasa kondisi saya tidak dalam kondisi prima untuk mengerjakan tugas. Setelah saya demam tinggi lebih dari seminggu, dilanjut anak-anak dan suami yang giliran demam. Kemudian di minggu-minggu terakhir tantangan, keluarga besar kami harus kehilangan dua orang saudara ipar saya. Aaah ... perjalanan yang tidaklah mudah untuk saya menata hati.
Jujur, tantangan kemarin saya merasa lebih banyak hanya menggugurkan kewajiban. Kewajiban yang harus saya tuntaskan disaat saya menyatakan siap menjalankannya. Meski saya akui, saya masih belum puas dalam mengerjakannya.
Bukan tidak menghargai apresiasi yang diberikan, tapi entahlah saya merasa tidak perlu. Terkesan sombong? Wait ... saya merasa ini kewajiban saya. Jadi ya harus dikerjakan. Saya juga membuatnya tidak menjadi beban. Saat saya demam tinggi, ada saat-saat, kondisi badan saya agak enakkan, maka saya manfaatkan untuk rekaman. Its just fever ... bukan penyakit yang buat saya sama sekali gak bisa bangun atau berjalan. Selama saya masih bisa duduk walau hanya 5 atau 10 menit, ya manfaatkanlah. Dan saya sadar banget bahwa hasionya pastilah tidak sempurna, but its ok ... yang terpenting saat itu, saya sudah gugurkan kewajiban di kondisi saya yang kagi gak fit.
Nggak stress mengerjakan 30 hari berturut-turut? Kuncinya ... jangan dihitung! Jalanin aja. Saya hanya kepikiran, oh besok saya akan cerita tentang ini dan begitulah hari per hari saya jalankan.
Dari tantangan ini, saya bersyukur bahwa sebenarnya saya adalah orang yang cukup tangguh. Mungkin lebih tepat keras kepala? Hahahahaha ... push your limit! Dari tantangan ini juga saya paham bahwa saya juga orang yang fleksibel, adaptif dan problem solver yang cukup baik. Sewaktu bentuk video susah untuk saya lakukan karena proses yang lebih lama dan juga saya belum begitu mahir untuk editing, maka saya mencari cara lain untuk bisa menyelesaikan tantangan saya dengan cara yang lebih mudah agar saya tidak menjadi panik dan stress. Dan saya itu orangnya ternyata konsisten (ini baru saya sadari, selama ini saya merasa tidak konsisiten), setiap hari dengan kondisi apapun (bahkan saat kedua kakak ipar saya meninggal dunia dalam kurun waktu 1 minggu, saya masih bisa membuat jurnal dan mengirimkannya).
Yep, tantangan 30 hari ini membuka mata saya bahwa saya menemukan diri saya dalam versi yang lebih baik yang selama ini tidak ada dalam gambaran saya. Bukankah itu makna belajar? To be the better version of you. Dan bersiap menjadi kupu-kupu yang cantik. Mampukah saya? Entahlah ... just I said .., jalanin aja.
#aliranrasatahapkepompong
#buncek1
#institutibuprofesional




Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk hadirnya