Transformasi menjadi kupu-kupu cantik yang sempurna ini, ternyata masih harus melewati proses yang harus dijalani. Ini adalah tahap awal sebagai kupu-kupu untuk menjadi lebih cantik, menawan dan kuat. Kupu-kupu yang mampu membawa kebaikan. Maka, tahap ini mengenal kekuatan diri sebagai modal untuk menyebar kebaikan.
Tahap ini adalah tahap mentorship. Dimana kami diminta untuk berperan sebagai mentor dan mantee sekaligus. Maka kembali kami diusik untuk benar-benar paham apa yang menjadi kekeuatan/kelebihan kita untuk dapat dibagikan ke orang lain. Tanpa kita sadar, apa yang kita bisa seringkali dibutuhkan oleh orang lain untuk dapat melakukan hal yang sama. Maka, saat bu Septi menjelaskan bagaimana program mentorship itu berjalan, maka ... saya dan beberapa teman yang lain, cukup cepat bergerak untuk mengenalkan diri sebagai mentor dan sekaligus sayapun mencafi mentor untuk diri saya pribadi.
Sebagai Mentor
Saya memilih sebagai mentor di bidang Public Speaking. Yep, ini memang bisanya saya. Berharap pengalaman lebih kurang selama 15 tahun ini, bisa memberikan hal-hal yang bermanfaat untuk para mantee. Mendaftar sebagai mentor dan menyusun kalimat perkenalan di platform yang sudah disediakan, cukup menantang juga ternyata. Ada enam orang yang mendaftar sebagai mantee. Satu orang terpaksa saya tolak, karena yang ingin dipelajarinya, agak menyimpang dari apa yang saya kuasai. Dari lima orang yang tersisa, empat orang yang merespon dengan cepat. Satunya, entahlah ... barangkali sudah mendapatkan mentor yang lain ya?.
Dan minggu pertama ini, tugas kami adalah Get To Know Each Others. Yep, kami diminta untuk berkenalan. Membuat obrolan ringan antara mentor dan mantee, mengenai keinginan bergabung di program mentoring saya. Saya mencoba menggali lebih dalam, apa yang menjadi kebutuhan dari masing-masing mantee saya. Karena tiap mantee punya kebutuhan yang berbeda. Tujuan dan harapan mereka untuk mengikuti program mentoring ini ke saya juga berbed-beda. Jadi, ya ... sebagai mentor, saya harus mampu membaca ini semua.
Tahap ini sangat dibutuhkan oleh saya untuk menyusun rancangan belajar mengenai kebutuhan mereka di program mentoring ini. Buat saya, masa perkenalan ini adalah modal saya untuk bisa berhasil menjalankan program ini. Dengan empat orang mantee, pendekatan saya tetap personal (indìvidual). Proses mentorship juga dilakukan secara personal. Ada group messanger sebagai info umum untuk para mantee.
Dengan aplikasi messanger, program mentorship ini sudah terarah dengan baik. Step by stepnya dibuat rinci dan ini sangat membantu.
Sebagai Mantee
Awalnya saya cukup bingung menentukan apa yang ingin saya pelajari lebih dalam. Apakah mengenai konselor anti bullying? Atau videofotografi? Setelah agak 'jireng' mencari list mentor (belum menemukan yang sreg, udah keduluan ama pegel mata padahal daftar list masih banyak banget, duh ...) tiba-tiba saya tergerak melihat profil mba Mittya Ziqroh. Saya baca lengkap apa yang ditawarkan oleh mbak Mittya di kolom perkenalannya mengenai mentoring yang beliau tawarkan, maka ... yes saya putuskan saya melamar menjadi mantee beliau dan diterima, alhamdulillah.
Hal yang membuat saya tertarik menjadi mantee mb Mittya adalah, adanya persamaan concern saya dan beliau terhadap kekerasan terhadap wanita dan anak. Ini sejalan dengan kegiatan kampanye anti bullying saya dan teman-teman, yang memulai program mencegah bullying dengan mencegah tindakan kekerasan di sekolah dan di rumah dan pembiasaan berbuat baik. Yaaaaak, nyerempetkan? Tapi yang lebih pastinya, saya mau belajar mengenai proses pendampingan korban. Mau mengeruk pengalaman beliau menangani korban. Selama ini saya dan teman-teman belum pernah sama sekali melakukan proses pendampingan. Kegiatan kampanye kami itu sifatnya lebih preventif, pencegahan. Padahal realitanya selama kampanye, kami banyak menemukan korban-korban bullying yang sangat butuh pendampingan.
So, minggu ini cukup seru di masa perkenalan. Mengeluarkan keinginan dan kebutuhan kita dan kemampuan kita. Minggu dimana kami semua berperan sebagai guru dan murid. Agar saat proses belajar dijalankan, tak ada rasa jumawa bahwa kita adalah yang terbaik. Minggu yang mengajarkan keseimbangan dalam proses belajar, menerima dan memberi seiring sejalan.
#jurnalke1
#tahapkupukupu
#buncek1
#institut



Komentar
Posting Komentar
Terima kasih untuk hadirnya